Apakah ban motor ditambal berkali-kali masih aman dipakai? Yuk, kenali batasnya dan pelajari kapan waktu yang tepat untuk mengganti ban motor Anda
Ban motor ditambal berkali-kali memang terasa lebih hemat di kantong. Namun, tidak sedikit pengendara yang bertanya-tanya, apakah cara ini masih aman untuk perjalanan jarak jauh maupun harian?
Tambal ban memang menjadi solusi praktis ketika darurat. Akan tetapi, tidak banyak pengemudi tahu jika ada batas wajar yang perlu dipahami sebelum kebiasaan ini membahayakan dan berisiko kecelakaan di jalan.
Ban motor ditambal berkali-kali sebenarnya masih boleh dilakukan, asalkan memenuhi syarat tertentu. Mulai dari kondisi ban secara keseluruhan, lokasi tambalan, dan metode yang digunakan. Beberapa hal ini menjadi penentu apakah ban masih layak dipakai atau tidak.
Secara umum, batas aman yang disarankan para mekanik adalah maksimal tiga kali tambalan. Lebih dari itu, kekuatan struktur ban mulai berkurang dan risiko kebocoran ulang pun semakin sulit Anda hindari.
Jadi, jawabannya bukan sekadar boleh atau tidak ban ditambal terus menerus. Yang lebih penting adalah memahami kondisi ban Anda secara menyeluruh sebelum memutuskan untuk menambal lagi atau langsung ganti baru.
Bukan hanya soal jumlah, ada beberapa faktor lain yang menentukan apakah ban tambal masih layak dipakai atau tidak, di antaranya:
Jika Anda melakukan tambalan di area tengah tapak ban masih relatif aman dilakukan. Sebaliknya, jika kebocoran terjadi di dinding samping ban (sidewall), maka penambalan sangat tidak dianjurkan.
Perlu diketahui, sidewall berperan penting menopang beban dan menjaga stabilitas. Menambal area ini justru bisa membuat ban kehilangan kekuatan strukturalnya!
Faktanya, lubang dengan diameter kurang dari 6 mm masih bisa ditambal dengan aman. Namun jika kerusakannya berupa robekan memanjang atau lubang besar pada ban, lebih baik langsung ganti dengan yang baru.
Memaksakan tambal pada kerusakan parah tidak akan memberikan hasil yang aman. Ban justru akan lebih mudah bocor kembali dalam waktu singkat.
Metode tambal dalam seperti patch atau plug jauh lebih direkomendasikan dibanding tambal tempel biasa. Tambalan dari dalam ban akan menutup lubang lebih rapat dan bertahan lebih lama.
Untuk itu, pastikan proses tambal dilakukan oleh teknisi berpengalaman. Tambalan yang tidak rapi bisa menurunkan performa ban dan mempercepat kebocoran ulang.
Baca juga: Waktu yang Tepat Kapan Harus Mengganti Ban Motor Anda
Menambal ban boleh saja, tapi ada konsekuensinya jika dilakukan terlalu sering dan terus-menerus.
Pertama struktur ban akan melemah, karena setiap tambalan mengubah komposisi ban. Makin banyak tambalan, makin berkurang kemampuan ban menahan beban dan tekanan angin.
Kemudian Anda akan merasakan sensasi berkendara yang tidak nyaman. Ban dengan banyak tambalan cenderung tidak seimbang. Efeknya, Anda bisa merasakan getaran atau bunyi aneh saat motor melaju.
Terakhir adanya risiko blowout yang meningkat. Ban yang sudah terlalu sering ditambal rentan pecah mendadak, terutama saat melaju kencang atau menikung di jalan basah.
Ada beberapa kondisi yang menjadi sinyal jelas bahwa ban motor sudah harus diganti, bukan ditambal ulang, di antaranya:
Jika permukaan ban mendekati atau mencapai batas Tread Wear Indicator (TWI), ban harus segera diganti. Ban gundul sendiri sangatlah licin dan membahayakan, terutama di musim hujan.
Baca juga: Cara Mengetahui Ketebalan Ban Motor, Kapan Harus Ganti?
Jika kebocoran terjadi lebih dari tiga kali, maka itu menjadi tanda struktur ban sudah tidak prima. Melanjutkan pemakaian ban hanya menambah risiko di jalan.
Benjolan di permukaan ban menandakan lapisan dalam sudah rusak. Kondisi ini berbahaya karena ban bisa pecah kapan saja tanpa adanya peringatan.
Ketidakstabilan saat menikung bisa jadi indikasi ban sudah aus tidak merata atau dinding sampingnya sudah melemah.
Sebagai patokan, ban depan motor umumnya direkomendasikan ganti setelah 12.000 km, sedangkan ban belakang sekitar 10.000 km. Jadi jika sudah melebihi batas, maka segera cek kondisi ban motor Anda!
Oleng saat berkendara biasanya mengarah pada kondisi kaki-kaki motor yang perlu diperiksa. Mulai dari tekanan ban yang kurang ideal, laher roda yang mulai aus, komstir yang kendur, pelek yang tidak lagi bulat sempurna, hingga sokbreker yang kinerjanya sudah menurun.
Ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan. Tapak ban yang sudah rata dengan batas TWI, permukaan yang mulai bergelembung, karet yang retak atau sobek, serta motor yang tidak lagi terasa stabil saat melaju. Semua ciri ini adalah sinyal bahwa ban sudah waktunya diganti.
Tidak semua kebocoran disebabkan oleh paku. Ban tubeless yang perlahan kehilangan angin bisa jadi akibat pentil yang tidak terpasang rapat, sisa kotoran yang menyangkut di bibir pelek, atau kondisi velg yang sudah berubah bentuk sehingga angin mudah merembes keluar.
Mengganti ban saja tidak selalu menyelesaikan masalah jika akar penyebabnya belum ditangani. Benda tajam yang masih tertinggal di pelek, pentil lama yang getas, atau kondisi velg yang berkarat dan retak bisa membuat ban baru pun ikut bocor. Pastikan seluruh komponen diperiksa sebelum ban baru dipasang.
Ban motor yang sudah tidak layak pakai bukan sekadar soal kenyamanan, karena Ini menyangkut keselamatan Anda dan pengguna jalan lain di sekitar.
Jika tanda-tanda di atas sudah muncul, maka segera ganti ban dengan produk berkualitas. Mulai sekarang ubah mindset Anda! Jangan tunggu hingga ban benar-benar bocor atau pecah di tengah perjalanan.
Untuk kebutuhan ban bermerek seperti Pirelli dan Aspira Premio Anda bisa langsung mengunjungi AstraOtoshop.com, e-commerce resmi Astra yang menyediakan berbagai produk otomotif original dan terpercaya.
Di AstraOtoshop, juga tersedia sparepart motor berkualitas seperti shockbreaker Motor Kayaba (OC & OS SERIES) hingga berbagai produk dari Ulti X yang siap dikirim ke seluruh Indonesia. Butuh rekomendasi produk yang sesuai dengan motor Anda? Hubungi kami melalui nomor telepon 1500725 atau chat langsung via WhatsApp.