Banyak yang penasaran, apakah start stop bikin aki cepat rusak? Ketahui fakta lengkapnya dan cara merawat aki mobil hybrid agar tetap awet di sini.
Pertanyaan apakah start stop bikin aki cepat rusak, seringkali menghantui para pemilik mobil dengan teknologi modern. Sistem hibrid membuat mesin mati dan menyala kembali secara otomatis, sehingga siklus kerja aki jauh lebih intens dibanding mobil konvensional.
Namun pada kenyataannya, kerusakan pada mobil hybrid tidak selalu disebabkan oleh teknologi start-stop itu sendiri. Ada faktor-faktor lain yang justru lebih berpengaruh dan sering luput dari perhatian pemilik kendaraan.
Start stop bisa merusak aki mobil, jika jenis aki yang digunakan pada mobil hybrid tidak sesuai spesifikasi. Namun dengan aki yang tepat dan perawatan rutin, usia komponen mobil hybrid tetap bisa panjang dan optimal.
Yang paling sering jadi biang keladi kerusakan justru pada kelalaian pengguna, seperti memakai aki yang tidak sesuai spesifikasi, ventilasi baterai tersumbat, atau penggunaan aki 12V yang dibiarkan soak.
Untuk itu, segera lakukan pengecekan sebelum masalah kecil berkembang menjadi kerusakan besar. Agar lebih paham mengenai aki dan sistem kelistrikan pada mobil hybrid, berikut ini beberapa poin penjelasan yang perlu Anda ketahui.
Pada mobil berbahan bakar minyak full, mesin akan menyala saat kunci diputar dan mati saat mesin dimatikan. Proses ini menghasilkan pelumasan yang stabil, panas yang konsisten, dan pembakaran yang bisa terprediksi.
Sementara itu, mobil hybrid bekerja dengan cara berbeda. Pertama, mesin bensin hanya aktif saat dibutuhkan terutama untuk menambah tenaga, mengisi ulang baterai, atau menggerakkan roda pada kecepatan tinggi.
Dengan demikian, mesin bensin pada sistem hibrid dapat mati dan menyala puluhan kali dalam satu perjalanan. Setiap kali menyala, mesin membutuhkan tekanan oli yang instan, pasokan bahan bakar yang andal, dan percikan api yang stabil. Sering kali ini terjadi dalam kondisi suhu mesin yang belum optimal.
Kemudian yang jarang disadari banyak pengemudi hybrid, mesin hybrid juga seringkali memiliki waktu operasi mesin yang terlalu singkat.
Pada mesin bensin konvensional dirancang untuk mencapai rentang suhu tertentu, di mana panas akan menguapkan uap air, pengenceran bahan bakar, dan produk sampingan pembakaran di dalam crankcase.
Sementara itu, pada mobil hybrid, mesin mungkin hanya berjalan 30 detik atau satu menit, lalu mati kembali dan tidak pernah mencapai suhu optimal. Akibatnya, kelembapan bertahan lebih lama di dalam oli, yang memicu degradasi oli, pembentukan sludge (endapan lumpur), penumpukan asam, korosi, hingga umur mesin yang lebih pendek.
Baca juga: 5 Rekomendasi Aki Mobil Terbaik untuk Berbagai Jenis Kendaraan
Semua risiko yang bisa ditimbulkan mesin hybrid akan semakin tinggi jika perawatan rutin diabaikan, terutama pada kendaraan yang sering menempuh perjalanan jarak pendek.
Perlu Anda ketahui, mobil hybrid sendiri memiliki dua komponen baterai yaitu aki kecil (12V) dan aki dengan tegangan besar untuk suplai energi motor listrik.
Banyak pemilik mobil hybrid mengira satu-satunya baterai yang perlu diperhatikan adalah baterai mobil dengan tegangan tinggi. Kenyataannya, aki 12V juga memegang peran yang tidak kalah vital.
Meskipun sudah dilengkapi baterai hybrid berkapasitas tinggi, mobil hybrid seperti Toyota Veloz Hybrid tetap menggunakan aki kecil bertegangan 12 volt. Aki ini bukan untuk menggerakkan mobil, melainkan untuk mendukung sistem kelistrikan dasar kendaraan seperti lampu, sistem audio, klakson, hingga Electronic Control Unit (ECU).
Selain itu, aki kecil juga berfungsi untuk menjalankan sistem elektronik mobil sebelum sistem hybrid bekerja penuh. Namun jika aki soak, maka mesin bensin tidak bisa dinyalakan yang berarti sekecil apapun aki 12V, kerusakannya bisa membuat mobil mogok.
Sistem start-stop memang membuat aki bekerja lebih keras dari biasanya. Setiap kali mesin menyala, aki harus menyuplai daya untuk mengaktifkan motor starter. Hal ini menyebabkan aki mengalami lebih banyak siklus pengisian dan pengosongan daya.
Dalam sehari, siklus start-stop bisa terjadi puluhan kali tergantung kondisi lalu lintas. Kondisi ini akan sangat terasa di kota-kota besar Indonesia yang padat. Bayangkan saja Anda harus berhenti puluhan kali di lampu merah atau terjebak kemacetan.
Jika aki tidak dirancang untuk beban berat seperti ini, maka umurnya akan jauh lebih pendek. Oleh karenanya, mobil dengan sistem start-stop tidak cocok menggunakan aki biasa karena daya tahan dan ketahanannya tidak mencukupi.
Karena bekerja lebih keras, mobil dengan start-stop membutuhkan aki yang lebih kuat dan tahan terhadap siklus yang tinggi. Jenis aki yang umum digunakan pada mobil ini adalah EFB (Enhanced Flooded Battery), yang dirancang untuk menahan pengisian dan pengosongan daya secara berulang.
Selain jenis EFB, terdapat aki jenis AGM (Absorbent Glass Mat) yang lebih unggul. Aki AGM memiliki daya tahan lebih kuat dan umur pakai lebih panjang, meski datang dengan harga yang lebih tinggi dan biasanya digunakan pada mobil kelas premium.
Untuk kebutuhan aki EFB maupun AGM yang sesuai spesifikasi kendaraan Anda, AstraOtoshop menyediakan pilihan produk dari GS Astra yang dirancang memenuhi standar kendaraan modern.
Berikut ini beberapa langkah sederhana yang bisa mencegah kerusakan yang jauh lebih mahal ada komponen mobil hybrid Anda di kemudian hari:
Untuk kebutuhan aki mobil maupun sparepart kendaraan berkualitas lainnya, Anda bisa mengandalkan AstraOtoshop, e-commerce resmi Astra yang menyediakan produk otomotif orisinal dan terpercaya.
Segera konsultasikan berbagai kebutuhan kendaraan Anda melalui nomor telepon 1500725 atau langsung chat via WhatsApp. Jangan tunda perawatan aki pada mobil hybrid Anda sebelum masalah semakin besa